//MUSIK LATAR BLOG //MUSIK LATAR BLOG

CIDR (Classless Inter-Domain Routing)

CIDR (Classless Inter-Domain Routing) adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting. CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C.

CIDR memakai network prefix dengan panjang tertentu. Network prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai network ID. Contoh dari penulisan dari network previx adalah /18 dibelakang ip address. Contoh : 202.168.0.1 /18.

Tulisan dibawah ini bersumber dari penjelasan Pak Romi (http://romisatriawahono.net) tentang CIDR.

Tabel CIDR




subnet mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting pun berbeda-beda mengikuti kelas-kelasnya yaitu :

kelas C : /25 sampai /30 (/25, /26, /27, /28, /29, /30)
kelas B : /17 sampai /30 (/17, /18, /19, /20, /21, /22, /23, /24, /25, /26, /27, /28, /29, /30)
kelas A : sampai subnet mask dari /8 sampai /30 (/8,/9,/10,/11,/12,/13,/14,/15,/16,/17,/18,/19,/20,/21,/22,/23,/24,/25,/26,/27,/28,/29,/30)

===================================================================
Subnetting pada IP ADDRESS kelas C
subnet mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting adalah /25 sampai /30
misal network address 192.168.1.0/26.
kita akan cari tahu Jumlah subnet, Jumlah Host per subnet, Blok subnet, dan alamat Host dan broadcast yang valid.
analisa-nya seperti ini:
192.168.1.0 adalah kelas C (karena oktet pertama dalam range 192-223)
/26=255.255.255.192= 11111111.11111111.11111111.11000000



karena kelas C, kita akan bermain di oktet terakhit.
Jumlah subnet = 2 pangkat x, (x adalah banyaknya binary 1 pada oktet terakhir subnet mask)
jadi jumlah subnet adalah 2 pangkat 2 = 4 subnet
Jumlah Host per subnet = 2 pangkat y dikurangi 2 (y adalah jumlah binary 0 pada oktet terakhir subnet mask)

Jadi jumlah Host per subnet adalah 2 pangkat 6 dikurangi 2 = 62 Host
Blok subnet = 255 dikurangi angka desimal oktet terakhir subnet mask
blok subnet-nya = 256-192 = 64, 64+64 = 128, 128+64 = 192
jadi jumlah seluruh blok subnet = 0,64,128,192
blok subnet ke 1 = 192.168.1.0
blok subnet ke 2 = 192.168.1.64
blok subnet ke 3 = 192.168.1.128
blok subnet ke 4 = 192.168.1.192

Host dan broadcast yang valid sebagai berikut:
-host pertama adalah satu angka setelah subnet
-host terakhir adalah satu angka sebelum broadcast
-broadcast adalah satu angka sebelum subnet berikutnya

Lebih jelasnya perhatikan tabel dibawah ini :





===================================================================
Subnetting pada IP ADDRESS kelas B
Subnet mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting adalah /17 sampai /30
penghitungan CIDR /17 sampai /24 berbeda dengan perhitungan CIDR /25 sampai /30
CIDR /17 sampai /24 perhitunganya sama persis dengan subnetting kelas C, cuma permainannya pada oktet ke 3.

Sedangkan CIDR /25 sampai /30, blok subnet kita mainkankan di oktet ke 4 (seperti kelas C) namun setelah oktet ke 3 berjalan maju dari 0,1,2,3,4,5 dan seterusnya
kita coba menghitung 2 soal yang menggunakan CIDR /17 sampai /24 dan CIDR /25 sampai /30
misal 172.16.0.0/18 dan 172.16.0.0/25
Yang pertama 172.16.0.0/18
analisa-nya :
172.16.0.0 = kelas B (karena oktet pertama dalam range 128-191)
/18 = 255.255.192.0 = 11111111.11111111.11000000.00000000




CIDR /17 sampai /24 perhitunganya sama persis dengan subnetting kelas C, cuma permainannya pada oktet ke 3. karena CIDR yang di pakai dalam range /17 sampai /24, blok subnet kita mainkan di oktet ke tiga
Jumlah subnet = 2 pangkat x, (x adalah banyaknya binary 1 pada 2 oktet terakhir subnet mask)
jadi jumlah subnet adalah 2 pangkat 2 = 4 subnet
Jumlah Host per subnet = 2 pangkat y dikurangi 2 (y adalah jumlah binary 0 pada 2 oktet terakhir subnet mask)
jadi jumlah Host per subnet adalah 2 pangkat 14 dikurangi 2 = 16.382 Host
Blok subnet = 255 dikurangi angka desimal oktet ke 3 subnet mask
blok subnet-nya = 256-192 = 64, 64+64 = 128, 128+64 = 192
jadi jumlah seluruh blok subnet = 0,64,128,192
blok subnet ke 1 = 172.16.0.0
blok subnet ke 2 = 172.16.0.64
blok subnet ke 3 = 172.16.0.128
blok subnet ke 4 = 172.16.0.192

Host dan broadcast yang valid sebagai berikut:
lebih jelasnya perhatikan tabel dibawah ini :
saya ingatkan sekali lagi, blok subnet kita mainkan di oktet ke 3
permainan host ID tetap di oktet terakhir.



Contoh yang kedua 172.16.0.0/25
analisa-nya :
172.16.0.0 = kelas B (karena oktet pertama dalam range 128-191)
/25 = 255.255.255.128 = 11111111.11111111.11111111.10000000





Karena CIDR yang di pakai dalam range /25 sampai /30, blok subnet kita mainkan di oktet ke 2, namun setelah oktet ke tiga berjalan maju 1,2,3,4 dan seterusnya
Jumlah subnet = 2 ^ x, (x adalah banyaknya binary 1 pada dua oktet terakhir subnet mask)
jadi jumlah subnet adalah 2 pangkat 9 = 512 subnet
jadi jumlah Host per subnet adalah 2 pangkat 7 dikurangi 2 = 126 Host
Blok subnet = 255 dikurangi angka desimal oktet ke 3 subnet mask
jadi blok subnet-nya = 256-128 = 128
jadi jumlah seluruh blok subnet = 0,128 (namun setelah oktet ke tiga berjalan maju 0,1,2,3,4, sampai 255)
ok, kita majukan dulu oktet ketiga.
172.16.0.x
172.16.1.x
172.16.2.x
172.16.3.x
sampai…
172.16.255.x
setelah oktet ke 3 maju, sekarang kita masukkan blok subnet yaitu angka 0 dan 128.
172.16.0.0 dan 172.16.0.128
172.16.1.0 dan 172.16.1.128
172.16.2.0 dan 172.16.2.128
172.16.3.0 dan 172.16.3.128
172.16.255.0 dan 172.16.255.128
————– + —————— +
256 subnet dan 256 subnet ========= 512 subnet
List-nya seperti ini:
Blok Subnet ke 1 = 172.16.0.0
Blok Subnet ke 2 = 172.16.0.128
Blok Subnet ke 3 = 172.16.1.0
Blok Subnet ke 4 = 172.16.1.128
Blok Subnet ke 5 = 172.16.2.0
Blok Subnet ke 6 = 172.16.2.128
Blok Subnet ke 7 = 172.16.3.0
Blok Subnet ke 8 = 172.16.3.128
Sampai…
Blok Subnet ke 511 = 172.16.255.0
Blok Subnet ke 512 = 172.16.255.128
Host dan broadcast yang valid sebagai berikut:




===================================================================
Subnetting kelas A
Subnet mask yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting pada kelas A adalah semua subnet mask mulai /8 sampai /30.
sebenarnya konsepnya sama dengan kelas C dan B. yang membedakan hanya di OKTET mana kita mainkan blok subnet.
kelas C di oktet ke 4 (terakhir)=kelas B di oktet ke 3 dan 4 (2 oktet terakhir)
kelas A di oktet ke 2,3 dan 4 (3 oktet terakhir)
misal 10.0.0.0/16
analisa-nya:
10.0.0.0
kelas A (karena oktet pertama dalam range 1-126)
/16 = 255.255.0.0 = 11111111.11111111.00000000.00000000

Jumlah subnet = 2 pangkat 8 = 256
Jumlah Host per subnet = 2 pangkat 16 dikurangi 2 = 65.534 host
blok subnet = 256 dikurangi 255 = 1
jadi keseluruhan blok-nya = 0,1,2,3,4 sampai 255
lebih jelasnya sebagai berikut:
Blok Subnet prtama = 10.0.0.0
Blok Subnet ke dua = 10.1.0.0
Blok Subnet ke tiga = 10.2.0.0
Blok Subnet kempat = 10.3.0.0
sampai…
Blok Subnet ke 254 = 10.254.0.0
Blok Subnet ke 256 = 10.255.0.0
alamat Host dan broadcase yang valid :




CIDR (Classless Inter Domain Routing)
Sampailah kita pada pokok pembahasan dalam tulisan ini yaitu metode CIDR, berhitung IP address dengan ini banyak digunakan dan sangat membantu dalam proses pembagian IP address, banyak tulisan yang membahas cara ini seperti di CCNA-CNAP, khususnya dalam soal-soal ujian yang dilakukan oleh cisco, Pada kesempatan ini yang akan kita lakukan adalah perhitungan subnetting lanjutan atau yang dikenal dengan VLSM (variable length Subnet Mask), namun sebelum kita membahas VLSM ada baiknya kita sedikit meriview tentang subnetting menggunakan CIDR. Pada tahun 1992 lembaga IEFT memperkenalkan suatu konsep perhitungan IP Address yang dinamakan supernetting atau classless inter domain routing (CIDR), metode ini menggunakan notasi prefix dengan panjang notasi tertentu sebagai network prefix, panjang notasi prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang digunakan sebagai Network ID, metode CIDR dengan notasi prefix dapat diterapkan pada semua kelas IP Address sehingga hal ini memudahkan dan lebih efektif. Menggunakan metode CIDR kita dapat melakukan pembagian IP address yang tidak berkelas sesukanya tergantung dari kebutuhan pemakai. Sebelum kita melakukan perhitungan IP address menggunakan metode CIDR berikut ini adalah nilai subnet yang dapat dihitung dan digunakan Sumber table dibawah berasal dari :http://romisatriawahono.net


Subnet Mask
CIDR
Subnet Mask
CIDR

255.128.0.0
/9
255.255.240.0
/20
255.192.0.0
/10
255.255.248.0
/21
255.224.0.0
/11
255.255.252.0
/22
255.240.0.0
/12
255.255.254.0
/23
255.248.0.0
/13
255.255.255.0
/24
255.252.0.0
/14
255.255.255.128
/25
255.254.0.0
/15
255.255.255.192
/26
255.255.0.0
/16
255.255.255.224
/27
255.255.128.0
/17
255.255.255.240
/28
255.255.192.0
/18
255.255.255.248
/29
255.255.224.0
/19
255.255.255.252
/30

Catatan penting dalam subnetting ini adalah penggunaan oktat pada subnet mask dimana :
- untuk IP Address kelas C yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada oktat terakhir karena pada IP Address kelas C subnet mask default-nya adalah 255.255.255.0
- untuk IP Address kelas B yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada 2 oktat terakhir karena pada IP Address kelas B subnet mask default-nya adalah 255.255.0.0
- untuk IP Address kelas A yang dapat dilakukan CIDR-nya adalah pada 3 oktat terakhir karena IP Address kelas A subnet mask default-nya adalah 255.0.0.0 untuk lebih jelasnya dapat kita lakukan perhitungan pada contoh IP Address berikut ini :
diketahui IP Address 130.20.0.0/20 yang ingin diketahui dari suatu subnet dan IP Address adalah ;
1. Berapa jumlah subnet-nya ?
2. Berapa jumlah host per subnet ?
3. Berapa jumlah blok subnet ?
4. Alamat Broadcast ?
Untuk dapat menghitung beberpa pertanyaan diatas maka dapat digunakan rumus perhitungan sebagai berikut :
- Untuk menghitung jumlah subnet = (2x)
(2x) = (24) = 16 subnet
Dimana x adalah banyak angka binary 1 pada subnet mask di 2 oktat terakhir : 130.20.0.0/20, yang kita ubah adalah /20 menjadi bilangan binary 1 sebanyak 20 digit sehingga (banyaknya angka binary 1 yang berwarna merah) dan jumlah angka binary pada 2 oktat terakhir adalah 4 digit

/20
11111111
11111111
11110000
00000000
Decimal
255
255
240
0

- Untuk menghitung jumlah host per subnet = (2y-2)
(2y-2) = (212-2) = 4094 host
Dimana y adalah banyaknya angka binary 0 pada subnet mask di 2 oktat terakhir (banyaknya angka binary 0 yang berwarna hijau) dan jumlah angka binary pada 2 oktat terakhir adalah 12 digit

/20
11111111
11111111
11110000
00000000
Decimal
255
255
240
0
- Untuk menghitung jumlah blok subnet = (256-nilai decimal 2 oktat terakhir pada subnet) sehingga =
(256-240)= 16
0 16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224 240
Hasil pengurangan tersebut kemudian menjadi nilai kelipatan sampai nilainya sama dengan nilai pada 2 oktat terakhir di subnet mask, yaitu : 16+16 dan seterusnya hingga 240, kelipatan 16 adalah :
0 16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224 240 
Dari hasil perhitungan diatas maka dapat kita simpulkan :
Untuk IP Address 130.20.0.0/20
Jumlah subnet-nya = 16
Jumlah host per subnetnya = 4094 host
Jumlah blok subnetnya sebanyak 16 blok yaitu
16 32 48 64 80 96 112 128 144 160 176 192 208 224 240
Dengan hasil akhir sebagai berikut :

Selanjutnya dari nilai CIDR tersebut dapat kita bagi lagi menjadi blok subnet baru hal ini
dapat dilakukan dengan metode VLSM.


sumber :
http://dataiman.wordpress.com/2010/11/10/cidr-vlsm-dan-manfaatnya/
http://gonglewanglewong.wordpress.com/2008/12/18/cidr/
metode-ip-address-lanjutan-vlsm.pdf

VLSM (Variabel Length Subnet Masks)

VLSM (Variabel Length Subnet Masks) adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam VLSM dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnetones tidak bias digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien.

Manfaat VLSM
Efisien menggunakan alamat IP karena alamat IP yang dialokasikan sesuai dengan kebutuhan ruang host setiap subnet.
VLSM mendukung hirarkis menangani desain sehingga dapat secara efektif mendukung rute agregasi, juga disebut route summarization.
Berhasil mengurangi jumlah rute di routing table oleh berbagai jaringan subnets dalam satu ringkasan alamat. Misalnya subnets 192.168.10.0/24, 192.168.11.0/24 dan 192.168.12.0/24 semua akan dapat diringkas menjadi 192.168.8.0/21.
VLSM memberbaiki kekurangan metode conventional subnetting. Dalam subnetting tradisional, semua subnet mempunyai kapasitas yang sama. Ini akan menimbulkan masalah ketika ada beberapa subnet yang jauh lebih besar daripada yang lain atau sebaliknya. Sedangkan pada metode subnetting VLSM semua subnet tidak harus mempunyai kapasitas yang sama, jadi bias disesuaikan dengan kebutuhan kita. contoh:
130.20.0.0/20

Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka didapat
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20

Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka
Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16

Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet ke 3 = 130.20.32.0/20
Dst … sampai dengan
Blok subnet ke 16 = 130.20.240.0/20

Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :
Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai 16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24
Blok subnet VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24
Blok subnet VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24
Dst … sampai dengan
Blok subnet VLSM 1-16 = = 130.20.47/24

Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu 130.20.32.0 kemudian kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi 8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.37.192/27
Blok subnet VLSM 2-1 = 130.20.38.224/27

Metode VLSM hampir serupa dengan CIDR hanya blok subnet hasil daro CIDR dapat kita bagi lagi menjadi sejumlah Blok subnet dan blok IP address yang lebih banyak dan lebih kecil lagi.


sumber :
- http://blog.unsri.ac.id/rizkyasiawati/welcome/pengertian-cidr-dan-manfaat-dari-vlsm-/mrdetail/16216
- http://dataiman.wordpress.com/2010/11/10/cidr-vlsm-dan-manfaatnya/

Domain Name Sistem (DNS) server

Pengertian
Domain Name System (DNS) adalah distribute database system yang digunakan untuk pencarian nama komputer (name resolution) di jaringan yang mengunakan TCP/IP (Transmission Control
Protocol/Internet Protocol).
Fungsi
Digunakan pada aplikasi yang terhubung ke Internet seperti web browser atau e-mail, dimana DNS membantu memetakan host name sebuah komputer ke IP address.
Keunggulan DNS
diantaranya :
Mudah, DNS sangat mudah karena user tidak lagi direpotkan untuk mengingat IP address sebuah komputer cukup host name (nama Komputer).
Konsisten, IP address sebuah komputer bisa berubah tapi host name tidak berubah.
Simple, user hanya menggunakan satu nama domain untuk mencari baik di Internet maupun di Intranet.
Cara Kerja DNS
DNS tidak berdiri sendiri, tapi dia berdiri dalam sebuah server yang biasa dikenal dengan nama DNS Server dan terhubung dengan jaringan internet. Cara kerjanya yaitu:



Kerangan :
Saat komputer client mengakses alamat host www.domainsiapaneh.com
Komputer tersebut akan melakukan translasi dengan menghubungi host lokal (database host di komputer 127.0.0.0) terlebih dahulu, jika tidak ada data maka komputer akan menghubungi DNS server (misal DNS ISP Telkom 202.134.0.61) yang terhubung lewat jaringan untuk mengetahui apakah alamat yang kita ketikkan itu terdaftar dalam database yang ada di DNS server. Jika tidak ada maka DNS server akan menghubungi DNS server lainnya berdasarkan level domain yang ada.
Kemudian DNS server yang mengetahui IP alamat tersebut, memberi informasi alamat IP ke client dan selanjutnya client bisa mengakses alamat tersebut.
Stuktur DNS




Pengelompokkan database dari DNS server tersusun secara hirarki sistem, sistem ini dipilih karena sistem ini cocok digunakan untuk sistem terdistribusi, konsisten untuk setiap host, dan selalu update. Sistem ini digambarkan sebagai sebuah tree yang memiliki beberapa cabang. Cabang-cabang ini mewakili domain, subdomain, top level domain, atau suatu host.

Domain tertinggi adalah root yang dilambangkan dengan titik, domain yang terletak tepat di bawah root disebut top level domain. Beberapa contoh top level domain ini antara lain com, edu, gov, biz, us, info, net dan lain-lain. Turunan dari top level domain disebut subdomain. Domain yang terletak setelah top level domain adalah second level domain, dan domain yang berada di bawah second level domain disebut third level domain, dan seterusnya.

Sistem hirarki DNS di atas tentunya tidak diatur oleh satu server saja. Sistem hirarki DNS ini dipecah-pecah menjadi beberapa server pada setiap level domain. Jadi setiap cabang-cabang atau level domain juga mempunyai DNS server sendiri yang masing-masing saling terhubung dan bertukar informasi antara DNS server lainnya.

catatan lainnya :

Sebuah hirarki pengelompokan domain berdasarkan nama, yang terbagi menjadi beberapa bagian diantaranya:
Root-Level Domains
Domain ditentukan berdasarkan tingkatan kemampuan yang ada di struktur hirarki yang disebut dengan level. Level paling atas di hirarki disebut dengan root domain. Root domain di ekspresikan berdasarkan periode dimana lambang untuk root domain adalah (“.”).
Top-Level Domains
Pada bagian dibawah ini adalah contoh dari top-level domains:
- com Organisasi Komersial
- edu Institusi pendidikan atau universitas
- org Organisasi non-profit
- net Networks (backbone Internet)
- gov Organisasi pemerintah non militer
- mil Organisasi pemerintah militer
- num No telpon
- arpa Reverse DNS
- xx dua-huruf untuk kode negara (id:Indonesia,sg:singapura,au:australia,dll)
Top-level domains dapat berisi second-level domains dan hosts.
Second-Level Domains
Second-level domains dapat berisi host dan domain lain, yang disebut dengan subdomain. Untuk contoh: Domain Bujangan, bujangan.com terdapat komputer (host) seperti server1.bujangan.com dan subdomain training.bujangan.com. Subdomain training.bujangan.com juga terdapat komputer (host) seperti client1.training.bujangan.com.
Host Names
Domain name yang digunakan dengan host name akan menciptakan fully qualified domain name
(FQDN) untuk setiap komputer. Sebagai contoh, jika terdapat fileserver1.detik.com, dimana fileserver1 adalah host name dan detik.com adalah domain name.

sumber :
- http://www.asus87.com/2011/03/mengenal-domain-name-system-dns/
- http://linux.or.id/node/2783