//MUSIK LATAR BLOG //MUSIK LATAR BLOG
Showing posts with label diagnosa LAN. Show all posts
Showing posts with label diagnosa LAN. Show all posts

Squid Proxy Access Control (ACL)


Squid Proxy Access Control (ACL)

Daftar ACL yang dikenali/dipergunakan pada squid.conf :
src: source (client) IP addresses
dst: destination (server) IP addresses
myip: the local IP address of a client’s connection
arp: Ethernet (MAC) address matching
srcdomain: source (client) domain name
dstdomain: destination (server) domain name
srcdom_regex: source (client) regular expression pattern matching
dstdom_regex: destination (server) regular expression pattern matching
src_as: source (client) Autonomous System number
dst_as: destination (server) Autonomous System number
peername: name tag assigned to the cache_peer where request is expected to be sent.
time: time of day, and day of week
url_regex: URL regular expression pattern matching

Penerapan Kasus Firewall (Paket Filtering soal no 15)

a.       Objek yang dilindungi
Paket tcp dan ssh di web server sekaligus ssh server.

b.      Topologi penerapan
(topologi soal)

Di definisikan menjadi:

Aturan yang di buat:
1.       Client 1 tidak bisa mengakses paket tcp ke web server.
2.       Client 2 tidak bisa meremote desktop ke web server.
3.       Paket tcp yang masuk ke router firewall dari mana pun akan di tolak.
4.       Uji koneksi yang keluar dari router firewall tidak akan di teruskan.

c.       Tabel IP



d.      Penerapan tabel IP

Konfigurasi Penerapan Dynamic NAT di ubuntu


Dynamic NAT
Dynamic Network Address Translation dimaksudkan untuk suatu keadaan dimana anda mempunyai IP address terdaftar yang lebih sedikit dari jumlah IP address un-registered. Dynamic NAT menterjemahkan setiap komputer dengan IP tak terdaftar kepada salah satu IP address terdaftar untuk connect ke internet. Hal ini agak menyulitkan para penyusup untuk menembus komputer didalam jaringan anda karena IP address terdaftar yang diasosiasikan ke komputer selalu berubah secara dinamis, tidak seperti pada NAT statis yang dipetakan sama. Kekurangan utama dari dynamis NAT ini adalah bahwa jika jumlah IP address terdaftar sudah terpakai semuanya, maka untuk komputer yang berusaha connect ke Internet tidak lagi bisa karena IP address terdaftar sudah terpakai semuanya.
nat-dinamic

Berikut adalah contoh penerapan dan konfigurasi dynamic NAT..

          Topologi penerapan
(gambar topologi)
c.       Penerapan tabel IP
1.      Atur IP semua PC yang digunakan sesuai dengan topologi
2.      Atur IP aliasing di router firewall dan gatewaynya.
(gambar 1)

(gambar 2)

3.      Lakukan akses paket tcp ke web server
(gambar 3)

Konfigurasi Penerapan Static NAT di ubuntu


Static NAT
Network Address Translation (NAT) menterjemahkan sejumlah IP address tidak terdaftar menjadi sejumlah IP address yang terdaftar sehingga setiap client dipetakkan kepada IP address terdaftar yang dengan jumlah yang sama.
NAT Static
NAT Static
Jenis NAT ini merupakan pemborosan IP address terdaftar, karena setiap IP address yang tidak terdaftar (un-registered IP) dipetakan kepada satu IP address terdaftar. Static NAT ini juga tidak seaman jenis NAT lainnya, karena setiap komputer secara permanen diasosiasikan kepada address terdaftar tertentu, sehingga memberikan kesempatan kepada para penyusup dari Internet untuk menuju langsung kepada komputer tertentu pada jaringan private anda menggunakan address terdaftar tersebut.
Berikut adalah contoh konfigurasi static NAT..

a.       Objek yang dilindungi:
Web server/internet dari koneksi yang tidak dikenal (ip yang menggunakan ip private)
b.      Topologi penerapan
(gambar 1)

c.       Tabel IP

d.      Penerapan dari tabel IP
1.      Siapkan atau nyalakan semua mesin pada virtual box seperti topologi yang telah di buat.


2.      Aturan yang akan dibuat yaitu:
Client 1 dan 2 apabila akan mengirimkan akses paket tcp ke web server harus menggunakan ip public yang telah di sediakan oleh router firewall.

Konfigurasi Penerapan Network Firewall di ubuntu

Network Firewall didesain untuk melindungi jaringan secara keseluruhan dari berbagai serangan. Umumnya dijumpai dalam dua bentuk, yakni sebuah perangkat terdedikasi atau sebagai sebuah perangkat lunak yang diinstalasikan dalam sebuah server. Contoh dari firewall ini adalah Microsoft Internet Security and Acceleration Server (ISA Server), Cisco PIX, Cisco ASA, IPTables dalam sistem operasi GNU/Linux, pf dalam keluarga sistem operasi Unix BSD, serta SunScreen dari Sun Microsystems, Inc. yang dibundel dalam sistem operasi Solaris. Network Firewall secara umum memiliki beberapa fitur utama, yakni apa yang dimiliki oleh personal firewall (packet filter firewall dan stateful firewall), Circuit Level Gateway, Application Level Gateway, dan juga NAT Firewall. Network Firewall umumnya bersifat transparan (tidak terlihat) dari pengguna.


berikut adalah contoh penerapan network firewall..


a.       Objek yang dilindungi
1.      Web server dari pengujian koneksi dari luar.
2.      Web server dari akses tcp dari client 1
Skenario kasus:
1.      Client 1 dan 2 tidak bisa melakukan uji koneksi terhadap web server.
2.      Yang bisa mengakses paket tcp ke web server hanya client 2 saja.

b.      Topologi penerapan
(gambar 1)


c.       Tabel IP
d.      Penerapan tabel IP
1.      Atur IP untuk semua PC

Konfigurasi Penerapan Personal Firewall di ubuntu


Personal Firewall didesain untuk melindungi sebuah komputer yang terhubung ke jaringan dari akses yang tidak dikehendaki. Firewall jenis ini akhir-akhir ini berevolusi menjadi sebuah kumpulan program yang bertujuan untuk mengamankan komputer secara total, dengan ditambahkannya beberapa fitur pengaman tambahan semacam perangkat proteksi terhadap virus,anti-spyware, anti-spam, dan lainnya. Bahkan beberapa produk firewall lainnya dilengkapi dengan fungsi pendeteksian gangguan keamanan jaringan (Intrusion Detection System). Contoh dari firewall jenis ini adalah Microsoft Windows Firewall (yang telah terintegrasi dalam sistem operasi Windows XP Service Pack 2, Windows Vista dan Windows Server 2003 Service Pack 1), Symantec Norton Personal Firewall, Kerio Personal Firewall, dan lain-lain. Personal Firewall secara umum hanya memiliki dua fitur utama, yakni Packet Filter Firewall dan Stateful Firewall.
berikut adalah contoh penerapan firewall..

a.       Objek yang dilindungi
      Web server dari pengiriman paket tcp yang tidak di kehendaki.
      b.      Topologi penerapan


(topologi)

c.       Tabel IP
d.      Penerapan
1.      Atur IP untuk client 1 yaitu 1.1.1.2
(gambar 1)

Contoh Soal CIDR dan penyelesaiannya


Menentukan Subnet mask dengan CIDR:
Subnet Mask  atau Netmask adalah angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID dengan host ID, menunjukkan letak suatu host, apakah berada di jaringan lokal atau jaringan luar. Bit yang menunjukkan Network ID diset 1 dan bit yang menunjukkan Host ID diset 0.

Suatu IP Address 192.168.0.1/27 berarti memiliki 27 bit sebagai Network ID dan 5 bit sisanya sebagai Host ID (masih ingatkan IP address terdiri dari 32 bit). Sehingga Subnet Mask dari IP Address tersebut adalah 11111111.11111111.11111111.11100000 atau 255.255.255.224.

Contoh Soal 1 :

Soal –soal perhitungan subnetting biasanya berkisar di empat masalah yaitu: Jumlah SubnetJumlah Host per SubnetBlok Subnet dan Alamat Host-Broadcast.

Contoh Soal:
Subnetting apa yang terjadi pada IP Address kelas C 192.168.1.0/27?

Jawab:
Subnet mask dari 192.168.1.0/27 adalah 11111111.1111111.11111111.11100000  atau 255.255.255.224, maka:

  1. 1. Jumlah Subnet,

Laporan Static Routing


MIRNA RIZKI LESTARI
STATIC ROUTING
(packet tracer)
Guru pembimbing:
Pak Antoni B
Pak Rudi
XI TKJ A
Sabtu, 14 Januari 2012
Diagnosa LAN
Nilai dan paraf:



I.        PENDAHULUAN

            Routing adalah proses dimana suatu item dapat sampai ke tujuan dari satu lokasi ke lokasi lain. Beberapa contoh item yang dapat dirouting :mail, telepon call, dan data. Di dalam jaringan, Router adalah perangkat yang digunakan untuk melakukan routing trafik.
Untuk dapat me"routing" segala sesuatu, Router, atau segala sesuatu yang dapat melakukan fungsi routing, membutuhkan informasi sebagai berikut :

1. Alamat Tujuan/Destination Address - Tujuan atau alamat item yang akan dirouting
2. Mengenal sumber informasi - Dari mana sumber (router lain) yang dapat dipelajari oleh router dan memberikan jalur sampai ke tujuan.
3. Menemukan rute - Rute atau jalur mana yang mungkin diambil sampai ke tujuan.
4. Pemilihan rute - Rute yang terbaik yang diambil untuk sampai ke tujuan.
5. Menjaga informasi routing - Suatu cara untuk menjaga jalur sampai ke tujuan yang sudah diketahui dan paling sering terjadi.



  1. TUJUAN
·         agar siswa dapat memahami apa itu routing
·         agar siswa dapat memahami konsep routing
·         agar siswa dapat membuat simulasi routing pada packet tracer
·         agar siswa dapat mengetahui cara mengkoneksikan network yang berbeda

Laporan Dynamic Routing


MIRNA RIZKI LESTARI
DYNAMIC ROUTING
(packet tracer)
Pemateri :
-          Bapak Antoni Budiman
-          Bapak Rudi Haryadi

Kelas : XI TKJ A
Job ke-2
Sabtu 14/01/2012
Nilai :
SMKN 1 Cimahi, 2011/2012
Paraf :

I.            PENDAHULUAN
Routing adalah sebuah proses yang berguna untuk meneruskan paket-paket dari sebuah jaringan ke jaringan laiinnya, dan biasanaya routing ini dilakukan dengan menggunakan router. Praktek kali ini akan membahas mengenai dynamic routing dalam router Cisco. Berikut ini adalah pengertian static routing dan dynamic routing.
·         Static routing adalah dimana seorang administrator melakukan routing secara manual. Mendefenisikan setiap network yang akan dihubungkan pada router-router yang akan digunakan.
·         Dinamic routing adalah dimana administrator hanya melakukan sedikir konfigurasi (bisa dikatakan hanya mengaktifkan rule dinamic routing) pada setiap router  yang akan dikomunikasikan, dan untuk kemudian router-router tersebut otomatis akan mendefinisikan network-network yang terhubung.

II.            TUJUAN

  •           Siswa dapat melakukan konfigurasi routing dengan menggunakan metoda dynamic routing.
  •           Siswa dapat mengetahui konsep dynamic routing.

Membangun Router di Rumah Dengan Ubuntu


Banyak rumah saat ini sudah memiliki akses Internet mandiri. Beberapa di antaranya bahkan telah menggunakan koneksi broadband dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Pertanyaannya, bisakah koneksi Internet tersebut dibagi-pakai ke banyak PC atau notebook di rumah? Jawabnya bisa, dengan router!
Router yang akan dibuat — meskipun untuk kelas rumahan — dijamin memiliki kestabilan dan keamanan kelas enterprise karena didukung dengan sistem operasi Linux. Eits, jangan alergi dulu dengan Linux. Linux yang ini sengaja dipilih dari distro Ubuntu Desktop — distro Linux termudah dan banyak digunakan sebagai terminal kerja. Kami jamin, Anda enggak bakal bertemu dengan perintah baris Linux yang banyak ditakuti oleh pengguna awam.
Di sini kita akan menggunakan Linux Ubuntu Desktop versi 8.10 (Intrepid Ibex). Namun pengguna Ubuntu versi di bawahnya juga tetap dapat mengikuti langkah yang sama. Oh ya, router yang akan kita buat menggunakan aplikasi Firestarter (www.fs-security.com) yang punya lisensi gratis 100%. Aslinya, aplikasi ini adalah sebuah firewall dengan fitur router. Jadi router Anda nantinya akan memiliki fasilitas firewall. Asyik, kan?
Mari kita mulai. Sebagai langkah awal, siapkan PC yang sudah ter-instal Ubuntu dan memiliki koneksi Internet aktif sehingga Anda bisa browsing di sana. Jangan lupa sediakan pula sebuah kartu jaringan tambahan untuk menghubungkan Ubuntu ke jaringan lokal.
Instalasi Komponen Utama
1. Ada dua komponen utama yang harus di-instal sebelum kita dapat memfungsikan PC sebagai router, yaitu Firestarter dan DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol). Komponen DHCP hanya perlu di-instal jika Anda ingin alamat IP dialokasikan otomatis kepada klien. Jika ingin melakukan konfigurasi alamat secara manual, DHCP tidak wajib di-instal. Untuk meng-instal Firestarter dan DHCP, klik menu System > Administration > Synaptic Package Manager (SPM). Kemudian masukkan password root Ubuntu Anda (jika diminta).
2. Dari jendela SPM, manfaatkan fasilitas “Quick Search” untuk mencari paket Firestarter. Jika sudah ketemu, klik kotak kecil di sebelah paket Firestarter dan pilih “Mark for Installation”.

setting router pada windows xp


Router adalah sebuah alat jaringan komputer yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Router berfungsi sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Suatu router bisa berupa sebuah device yang dirancang khusus untuk berfungsi sebagai router (dedicated router), atau bisa sebuah PC yang difungsikan sebagai router (PC Router). Manfaat yang didapat jika anda menggunakan PC Router adalah Anda tidak perlu membeli router tambahan sehingga dapat menghemat uang.
Dengan menggunakan komputer bersistem operasi Windows XP dan mengaktifkanIP FORWARDING, kita akan coba buat sebuah PC router sederhana. Sebagai contoh, ada 7 komputer dan 2 switch jaringan. kita akan membuat 2 jaringan yang dapat mengakses internet, salah satu komputer yang akan dijadikan router dilengkapi dengan 3 kartu jaringan dan salah satu dari kartu jaringan yang terhubung ke Modem untuk mengakses internet, sedangkan yang lainnya ke jaringan masing-masing.

xp-router-network
konfigurasi kartu jaringan pada PC Router dengan informasi berikut.
XP Router (Windows XP Professional) :
Network Card A (terhubung ke jaringan A):
IP: 10.10.10.1
Netmask: 255.255.255.0
Gateway (GW): [biarkan kosong]
Network Card B (terhubung ke jaringan B):IP: 192.168.20.1
Netmask: 255.255.255.0
Gateway (GW): [biarkan kosong]
Network Card C (terhubung ke Internet melalui kabel / koneksi dsl)Informasi ini akan sangat tergantung pada layanan koneksi Internet yang Anda gunakan :
IP: 192.168.1.1
Netmask: 255.255.255.0
Gateway (GW): 192.168.1.1
Konfigurasikan semua komputer di jaringan A dengan informasi berikut :
Jaringan A :
IP: 10.10.10.2-254
Netmask: 255.255.255.0
Gateway (GW): 10.10.10.1
Konfigurasikan semua komputer di jaringan B dengan informasi berikut :
Jaringan B
IP: 192.168.20.2-254
Netmask: 255.255.255.0
Gateway: 192.168.20.1
Sekarang saatnya untuk mengkonfigurasi IP forwarding pada XP router :
1) Klik Start dan klik Run …, kemudian ketik regedit untuk menjalankan registry editor.
regedit
2) Registry Editor window akan muncul. cari kunci registri berikut di sisi kiri jendela:
HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Services\TcpipParameters
pada sisi kiri, klik kanan pada IPEnableRouter. klik kanan objek, dan klik Modify.
IPEnableRouter
3) IPEnableRouter window akan muncul. isikan angka 1 pada Value data dan klik OK.
ip-forwarding
4) Tutup regisrty editor dan reboot komputer. Setelah reboot, semua komputer seharusnya dapat mengakses internet dan juga berbagi file / printer antara jaringan A dan B.

laporan enkapsulasi, handshaking, dan flowcontrol

silakan download file disini

CAPTIVE PORTAL


Captive Portal adalah salah satu fungsi/features Pfsense yang popular dan menjadi tarikan. Ia adalah satu teknologi yang memaksa pengguna HTTP dalam Rangkaiannya/Network untuk melihat laman web istimewa; selalunya Portal Pejabat/Kawasan/Kedai.
Ia juga selalu digunakan sebagai peluang untuk pengiklan produk/servis sesuatu tempat (selalunya tempat dimana ia dipasang). Contoh; Kopitiam menawarkan Internet tanpa Wayar percuma, setelah pelanggan memilih SSID Kopitiam, mereka akan di paksa melihat iklan Katering yang juga ditawarkan. Secara tak langsung Perniagaan Kopitiam membantu mempromosi perniagaan Katering.
kenitFirewall dilengkapi pfsense mampu mengawal Bandwidth pengguna Rangkaiannya dan dengan sedikit pengetahuan BSD (sila rujuk wiki pfsense) anda bole mengawal kemasukan(blacklist/forwarding) ke laman web tertentu. Selain pfsense, m0n0wall juga mempunyai Captive portal. Package kenitFirewall boleh memuatkan salah satu OS di atas.
Fungsi Captive Portal
Secara umum Captive Portal memiliki fungsi untuk mencegah atau memblokir koneksi yang tidak di inginkan dan mengarahkan client ke protokol tertentu, Captive Portal sebenarnya sama dengan router atau getway yang memiliki fungsi untuk menyaring semua koneksi yang masuk dan menolak koneksi yang tidak di inginkan ( client tidak terdaftar ).
Berikut cara kerja captive portal : user dengan wireless client diizinkan untuk terhubung wireless untuk mendapatkan IP address (DHCP) block semua rafik kecuali yang menuju ke captive portal (Registrasi/Otentikasi berbasis web) yang terletak pada jaringan kabel. redirect atau belokkan semua trafik web ke captive portal setelah user melakukan registrasi atau login, izinkan akses ke jaringan (internet)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan, bahwa captive portal hanya melakukan tracking koneksi client berdasarkan IP dan MAC address setelah melakukan otentikasi. Hal ini membuat captive portal masih dimungkinkan digunakan tanpa otentikasi karena IP dan MAC address dapat dispoofing.
Serangan dengan melakukan spoofing IP dan MAC. Sedangkan untuk spoofing IP diperlukan usaha yang lebih yakni dengan memanfaat kan ARP cache poisoning, kita dapat melakukan redirec trafik dari client yang sudah terhubung sebelumnya.
Serangan lain yang cukup mudah dilakukan adalah menggunakan Rogue AP, yaitu mensetup Access Point (biasanya menggunakan Host AP) yang menggunakan komponen informasi yang sama seperti AP target seperti SSID, BSSID hingga kanal frekwensi yang digunakan. Sehingga ke tika ada client yang akan terhubung ke AP buatan kita, dapat kita membelokkan trafik ke AP sebenarnya.
Tidak jarang captive portal yang dibangun pada suatu hotspot memiliki kelemahan pada konfigurasi atau design jaringannya. Misalnya, otentikasi masih menggunakan plaint text (http), managemen jaringan dapat diakses melalui wireless (berada pada satu network), dan masih banyak lagi. Kelemahan lain dari captive portal adalah bahwa komunikasi data atau trafik ketika sudah melakukan otentikasi (terhubung jaringan) akan dikirimkan masih belum terenkripsi, sehingga dengan mudah dapat disadap oleh para hacker.Untuk itu perlu berhati-hati melakukan koneksi pada jaringan hotspot, agar mengusahakan menggunakan komunikasi protokol yang aman seperti https, pop3, ssh, imaps ds .
referensi :
“http://www.kenitfirewall.com/2010/09/apa-itu-captive-portal.html”
“http://orinet-semarang.blogspot.com/2009/03/fungsi-captive-portal.html”

DHCP


DHCP (Dynamic Host Configuration Protocol) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCPharus memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual. Jika DHCPdipasang di jaringan lokal, maka semuakomputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IPsecara otomatis dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan olehDHCP, seperti default gateway dan DNS server.
DHCP didefinisikan dalam RFC 2131 dan RFC 2132 yang dipublikasikan oleh Internet Engineering Task Force.DHCPmerupakan ekstensi dari protokol Bootstrap Protocol (BOOTP).
Cara Kerja
Karena DHCP merupakan sebuah protokol yang menggunakan arsitektur client/server, maka dalam DHCP terdapat dua pihak yang terlibat, yakni DHCP Server dan DHCP Client.
  • DHCP server merupakan sebuah mesin yang menjalankan layanan yang dapat "menyewakan" alamat IP dan informasi TCP/IP lainnya kepada semua klien yang memintanya. Beberapa sistem operasi jaringan seperti GNU/Linuxmemiliki layanan seperti ini.
DHCP server umumnya memiliki sekumpulan alamat yang diizinkan untuk didistribusikan kepada klien, yang disebut sebagai DHCP Pool. Setiap klien kemudian akan menyewa alamat IP dari DHCP Pool ini untuk waktu yang ditentukan oleh DHCP, biasanya hingga beberapa hari. Manakala waktu penyewaan alamat IP tersebut habis masanya, klien akan meminta kepada server untuk memberikan alamat IP yang baru atau memperpanjangnya.
DHCP Client akan mencoba untuk mendapatkan "penyewaan" alamat IP dari sebuah DHCP server dalam proses empat langkah berikut:
  1. DHCPDISCOVER: DHCP client akan menyebarkan request secara broadcast untuk mencari DHCP Server yang aktif.
  2. DHCPOFFER: Setelah DHCP Server mendengar broadcast dari DHCP Client, DHCP server kemudian menawarkan sebuah alamat kepada DHCP client.
  3. DHCPREQUEST: Client meminta DCHP server untuk menyewakan alamat IP dari salah satu alamat yang tersedia dalam DHCP Pool pada DHCP Server yang bersangkutan.
  4. DHCPACK: DHCP server akan merespons permintaan dari klien dengan mengirimkan paketacknowledgment. Kemudian, DHCP Server akan menetapkan sebuah alamat (dan konfigurasi TCP/IPlainnya) kepada klien, dan memperbarui basis data database miliknya. Klien selanjutnya akan memulai proses binding dengan tumpukan protokol TCP/IP dan karena telah memiliki alamat IP, klien pun dapat memulai komunikasi jaringan.
Empat tahap di atas hanya berlaku bagi klien yang belum memiliki alamat. Untuk klien yang sebelumnya pernah meminta alamat kepada DHCP server yang sama, hanya tahap 3 dan tahap 4 yang dilakukan, yakni tahap pembaruan alamat (address renewal), yang jelas lebih cepat prosesnya.
Berbeda dengan sistem DNS yang terdistribusi, DHCP bersifat stand-alone, sehingga jika dalam sebuah jaringan terdapat beberapa DHCP server, basis data alamat IP dalam sebuah DHCP Server tidak akan direplikasi keDHCP server lainnya. Hal ini dapat menjadi masalah jika konfigurasi antara dua DHCP server tersebut berbenturan, karena protokol IP tidak mengizinkan dua host memiliki alamat yang sama.
Selain dapat menyediakan alamat dinamis kepada klien, DHCP Server juga dapat menetapkan sebuah alamat statik kepada klien, sehingga alamat klien akan tetap dari waktu ke waktu.
CatatanDHCP server harus memiliki alamat IP yang statis.
DHCP Scope
DHCP Scope adalah alamat-alamat IP yang dapat disewakan kepada DHCP client. Ini juga dapat dikonfigurasikan oleh seorang administrator dengan menggunakan peralatan konfigurasi DHCP server. Biasanya, sebuah alamat IP disewakan dalam jangka waktu tertentu, yang disebut sebagai DHCP Lease, yang umumnya bernilai tiga hari. Informasi mengenai DHCP Scope dan alamat IP yang telah disewakan kemudian disimpan di dalam basis data DHCP dalam DHCP server. Nilai alamat-alamat IP yang dapat disewakan harus diambil dari DHCP Pool yang tersedia yang dialokasikan dalam jaringan. Kesalahan yang sering terjadi dalam konfigurasi DHCP Server adalah kesalahan dalam konfigurasi DHCP Scope.
DHCP Lease
DHCP Lease adalah batas waktu penyewaan alamat IP yang diberikan kepada DHCP client oleh DHCP Server. Umumnya, hal ini dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa oleh seorang administrator dengan menggunakan beberapa peralatan konfigurasi (dalam Windows NT Server dapat menggunakan DHCP Manageratau dalam Windows 2000 ke atas dapat menggunakan Microsoft Management Console [MMC]). DHCP Lease juga sering disebut sebagai Reservation.
DHCP Options
DHCP Options adalah tambahan pengaturan alamat IP yang diberikan oleh DHCP ke DHCP client. Ketika sebuah klien meminta alamat IP kepada server, server akan memberikan paling tidak sebuah alamat IP dan alamat subnet jaringan. DHCP server juga dapat dikonfigurasikan sedemikian rupa agar memberikan tambahan informasi kepada klien, yang tentunya dapat dilakukan oleh seorang administrator. DHCP Options ini dapat diaplikasikan kepada semua klien, DHCP Scope tertentu, atau kepada sebuah host tertentu dalam jaringan.
Dalam jaringan berbasis Windows NT, terdapat beberapa DHCP Option yang sering digunakan, yang dapat disusun dalam tabel berikut.
Nomor DHCP Option
Nama DHCP Option
Apa yang dikonfigurasikannya
003
Mengonfigurasikan default gateway dalam konfigurasi alamat IP. Default gatewaymerujuk kepada alamat router.
006
Mengonfigurasikan alamat IP untuk DNS server
015
DNS Domain Name
Mengonfigurasikan alamat IP untuk DNS server yang menjadi "induk" dari DNS Server yang bersangkutan.
044
NetBIOS over TCP/IP Name Server
Mengonfigurasikan alamat IP dari WINS Server
046
Mengonfigurasikan cara yang digunakan oleh klien untuk melakukan resolusi nama NetBIOS.
047
Membatasi klien-klien NetBIOS agar hanya dapat berkomunikasi dengan klien lainnya yang memiliki alamat DHCP Scope yang sama.